Jenderal Hoegeng Iman Santoso Latar Belakang Intelijen Tokoh Idola Kombes Pol Andhika Vishnu 

- Redaksi

Senin, 26 Februari 2024 - 21:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembang

Ada banyak cerita tentang Jenderal polisi Hoegeng Imam Santoso, yang kita singkat saja menjadi Jenderal Polisi Hoegeng yang begitu mengesankan dimana ia telah membuat satu standar keteladanan yang sepertinya akan sangat sulit diikuti oleh polisi manapun yang ada di dunia.

Satu karakter dasar dari pak Hoegeng adalah tanpa pamrih, walau orang sering bilang beliau seorang yang jujur, sederhana, bijak sehingga memiliki integritas tanpa banding, namun saya meyakini bahwa semua keteladanan  itu lahir dari dasar dirinya yang bekerja tanpa pamrih.

ADVERTISEMENT

Ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Beliau bekerja sebagai polisi, bukan untuk mendapatkan kekayaan, atau jabatan, tapi murni pengabdiannya kepada negara. Tanpa mengharapkan balasan apapun. Sepi ing pamrih, rame ing gawe, ini sebuah kata yang suka terlintas di hati saya bila berbicara  jiwa tanpa pamrih Jenderal Polisi Hoegeng. Dalam perwayangan, sosok beliau ini adalah seperti  tokoh Gatot kaca, yaitu tokoh yang siap berangkat untuk mati bertempur demi negara, walau ia tahu harus menyerahkan nyawanya.

 

Tanpa pamrih ini, misalnya bisa dilihat dari tutur kisah Jenderal Polisi Hoegeng, Pada saat setelah tiga tahun menjadi intel (sebagai kepala Dinas Pengawasan Keselamatan Negara se-Jawa Timur—badan intel kepolisian kala itu), akhir 1955 Jenderal Hoegeng ditugaskan ke Medan. Berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP), ia ditempatkan sebagai kepala Direktorat Reserse Kriminal Kantor Polisi Provinsi Sumatera Utara.

 

Di sinilah, Hoegeng membuktikan keteladanannya. Begitu tiba di Pelabuhan Belawan, ia dan istri disambut rekan-rekan dari kantor barunya. Namun, ada seorang pengusaha keturunan muncul tiba-tiba. Lalu ia menyalaminya erat-erat sambil membungkuk kepada Jenderal Hoegeng. Ia memperkenalkan diri sebagai “Ketua Panitia Selamat Datang” yang khusus dibentuk untuk menyambut Hoegeng.

 

Jenderal Polisi Hoegeng  kaget dan heran dengan kejadian itu. Pengusaha keturunan itu bilang bahwa rumah dan mobil sudah disediakan “Panitia Selamat Datang” yang dipimpinnya. Ia juga siap mengantar rumah itu. Namun,  Jenderal Hoegeng menolaknya dengan halus dan langsung melenggang ke Hotel De Boer yang telah dipesankan rekan kantornya sebelum tinggal di rumah dinas di Jalan A. Rivai Nomor 26.

Baca Juga :  Menkumham Promosikan Kebebasan Beragama Indonesia di Hadapan Anggota Parlemen Inggris

 

Ketika, esok hari, dirinya pergi ke rumah dinas yang sudah kosong, ia mendapati orang keturunan itu ada di rumahnya. Ia sudah mengisi rumah tersebut dengan lemari es, piano, dan meubel lengkap, tanpa izin sang penghuni rumah, Jenderal Hoegeng pun menolaknya dan meminta agar perabotan segera diangkut kembali. Mendengar itu, orang itu diam, kikuk.  Jenderal Hoegeng pun akhirnya marah.

 

“Saya kasih waktu sampai jam dua. Kalau tidak dikeluarkan, saya suruh anak buah saya mengeluarkan barang-barang. Ternyata, hingga jam 2, barang-barang baru itu tetap di sana. “Terpaksa saya menyuruh anak buah saya memanggil kuli untuk mengeluarkan barang-barang itu,” cerita Hoegeng. (autobiografi Jendral Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan (1993). Sampai masa pensiun Jenderal Hoegeng tidak memiliki rumah.

 

Kisah-kisah tentang menolak pemberian ini ada begitu banyaknya, sehingga kemudian Jenderal Polisi Hoegeng dikenal sebagai figur teladan yang bersih. Namun Dari sekian banyak kisah, kisah-kisah Jenderal Hoegeng yang saya senangi adalah ketika beliau pernah menjadi Intel. Dalam tradisi Kepolisian, tidak banyak orang yang memiliki latar belakang di Intel bisa menjadi Kapolri. Oleh karena itu cerita dan karir Jenderal Polisi Hoegeng yang memulai dan melakukan kegiatan intelijen mengesankan bagi saya.

 

Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso dalam tugasnya kerap melakukan aksi penyamaran. Mulai dari menyamar sebagai pelayan sampai jadi ”hippie” pernah ia lakoni. Tugas-tugas intelijen itu di lakukan untuk mengetahui secara mendasar apa persoalan di bawah. Kegiatan seperti ini bahkan masih di lakukan walau sudah menjabat Kapolri.

Jenderal Polisi Hoegeng  sendiri merasa bahwa di bidang intelijen  ia merasa lebih prestise. Hal ini juga didukung oleh latar belakang pendidikannya yang banyak bersinggungan dengan tugas-tugas dunia shadow.

 

Kiprah Hoegeng dalam tugas-tugas Intelijen sebenarnya telah ditekuni jauh sebelum menjadi mahasiswa PTIK. Aksi penyamaran Hoegeng pertama kali dicatat justru sejak zaman revolusi atau tepatnya saat agresi militer II Belanda dilancarkan.

 

Mengutip tulisan Hussein Abri Dongoran dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Panjang Kuping Pinokio, 2021 Jenderal Hoegeng terpilih sebagai salah satu perwira yang tugaskan sebagai agen intelijen di Yogyakarta.  Beliau disiapkan untuk menjaring ragam informasi yang diperlukan bagi perjuangan Indonesia—dari potensi serangan hingga senjata. Bersamaan dengan itu, Hoegeng dibebani tugas lain seperti mencoba menarik simpati atau melakukan propaganda supaya sebagian besar serdadu Netherland Indies Civil Administration (NICA) berpihak kepada Indonesia.

Baca Juga :  Pulihkan Transportasi Warga, Babinsa dan Warga Bugo Kompak Perbaiki Jembatan Rusak

 

“Ketika terjadi agresi Militer II pada Desember 1948, kepala kepolisian menugasi Hoegeng menjadi agen intelijen. Tugasnya mencari informasi serta menarik simpati serdadu dan pegawai NICA untuk mendukung pemerintah Indonesia. menjalankan tugasnya. Hoegeng menyamar sebagai pelayan di Restoran Pinokio, Jalan Jetis 39, Yogyakarta. Aditya Sutanto (anak Hoegeng) menyebutkan restoran itu milik keluarga ibunya, (sedang) ibunya Meriyati, berjualan sate di restoran yang didatangi tentara Belanda itu,”

 

Tidak sampai di situ , ada juga kisah Pada masa penggunaan narkoba mulai ramai digunakan oleh anak-anak muda hingga publik figur Indonesia pada tahun 1970-an. Jenderal Hoegeng segera bertindak melakukan aksi penyamaran untuk mengetahui alasan merebaknya semangat sex drug, music, and rock n’ roll di kalangan anak muda, utamanya mereka yang tengah mengkonsumsi ganja.

 

Jenderal Polisi Hoegeng yang seorang Kapolri 4 bintang, namun tanpa rasa sungkan ia tetap rela didandani seperti kaum hippie era 1970-an oleh anak buahnya. Penampilan Hoegeng pun menjadi sulit dikenali operasi penyamarannya ini.  Jenderal Hoegeng sendiri mengenakan wig, kemeja bunga-bunga, dan syal di leher. Operasi jenderal Hoegeng sukses. Bahkan dari operasi itu Hoegeng dapat menjaring seorang anak menteri yang kedapatan mengkonsumsi narkoba.

 

Inilah menurut saya kisah tokoh yang amat saya idolakan dengan karir begitu lengkap dan latar belakang Intelijen, beliau bisa tetap teguh pada kesederhanaan. Kerja kerasnya dalam mengabdi kepada negara dan selalu bersikap tanpa pamrih. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, meridhoi kami semua agar bisa mengikuti keteladanan yang telah beliau berikan.

Sumber : Kombes Pol. Andhika Vishnu, S.I.K, M.H.Siswa Serdik Sespimti 33

Berita Terkait

Kalapas Binjai Hadiri Serah Terima & Pisah Sambut Kakanim Kelas I TPI Polonia
Kalapas Binjai Buka Pekan Olah Raga dan Seni Sambut HUT RI dan Pengayoman ke 79
Apresiasi Kinerja, Kakanwil Kemenumham Sumut Berikan Penghargaan Pegawai Teladan Kepada 9 Pewagai Berprestasi
Arisan ke III Keluarga Besar Alm H Djamaan dan Hj Kasirah di Tebing Tinggi: Momen Kebersamaan dan Kekerabatan
Keluarga Besar Alm H Djamaan – Almh Hj Kasirah Hadiri Resepsi Pernikahan Aziz dan Putri
Theo Adrianus Saksi Momen Bersejarah Perkembangan Gerakan Pramuka di Binjai, Mabicab dan Kwarcab Priode 2023-2028 Dilantik
Kalapas I Medan Maju Amintas Siburian Menyaksikan Kakanwil Kemenkumham Sumut Tampil Di Turnamen Tenis Lapangan Pengayoman Open
Diskusi Penilaian SPPN Bersama Wali Asuh Pemasyarakatan
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juli 2024 - 23:34 WIB

Kalapas Binjai Hadiri Serah Terima & Pisah Sambut Kakanim Kelas I TPI Polonia

Senin, 22 Juli 2024 - 23:31 WIB

Kalapas Binjai Buka Pekan Olah Raga dan Seni Sambut HUT RI dan Pengayoman ke 79

Senin, 22 Juli 2024 - 09:57 WIB

Apresiasi Kinerja, Kakanwil Kemenumham Sumut Berikan Penghargaan Pegawai Teladan Kepada 9 Pewagai Berprestasi

Minggu, 21 Juli 2024 - 15:21 WIB

Arisan ke III Keluarga Besar Alm H Djamaan dan Hj Kasirah di Tebing Tinggi: Momen Kebersamaan dan Kekerabatan

Sabtu, 20 Juli 2024 - 23:08 WIB

Keluarga Besar Alm H Djamaan – Almh Hj Kasirah Hadiri Resepsi Pernikahan Aziz dan Putri

Jumat, 19 Juli 2024 - 17:32 WIB

Kalapas I Medan Maju Amintas Siburian Menyaksikan Kakanwil Kemenkumham Sumut Tampil Di Turnamen Tenis Lapangan Pengayoman Open

Kamis, 18 Juli 2024 - 20:09 WIB

Diskusi Penilaian SPPN Bersama Wali Asuh Pemasyarakatan

Kamis, 18 Juli 2024 - 19:26 WIB

Eratkan Komunikasi Dengan Internalisasi Jajaran Pengamanan

Berita Terbaru